Call Center 0231 206330
LAPORAN ON JOB TRAINING TENTANG SYSTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PASIEN HIV/AIDS
LAPORAN ON JOB TRAINING  TENTANG  SYSTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN PASIEN HIV/AIDS

 A.Pendahuluan

          Berdasarkan data UNAIDS terdapat penderita  hingga akhir tahun 2018, terdapat 37,9 Milyar orang hidup dengan HIV, Dalam laporan yang sama juga ditemukan bahwa jumlah penemuan kasus infeksi baru HIV dan AIDS mengalami peningkatan setiap tahunnya .

             Data ini mengindikasikan peningkatan jumlah penularan infeksi HIV di Indonesia. HIV AIDS dapat menyerang setiap orang, dengan komunitas Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT), pekerja seksual, pengguna jarum suntik bersama, dan penghuni lapassebagai populasi kunci yang memiliki risiko penularan tinggi. Remaja khususnya merupakan kelompok usia yang paling rentan terinfeksi HIV AIDS.

          Risiko penularan HIV AIDS juga diperbesar oleh kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap HIV AIDS. Berdasarkan data WHO, hanya 34% remaja yang dapat mendemonstrasikan pengetahuan terkait HIV AIDS secara akurat, dan hanya 26% dari populasi remaja perempuan serta 33% dari populasi remaja laki-laki yang mengetahui bagaimana penularan HIV AIDS]. Data UNAIDS juga menunjukkan bahwa lebih dari 50% orang dengan HIV AIDS tidak mengetahui status mereka .

          Data-data tersebut dapat digunakan sebagai representatif akan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap HIV AIDS, khususnya remaja. Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA juga sering ditemukan di masyarakat. Keberadaan stigma dan diskriminasi menghalangi edukasi masyarakat akan pentingnya deteksi HIV melalui KTS, terutama pada populasi yang memiliki risiko. Hal-hal tersebut menyebabkan masih tingginya populasi orang dengan HIV AIDS dan kurangnya akses terhadap Antiretroviral Therapy (ART). Menurut data WHO dalam program “Ends by 2030”, 9,3 juta dari 25,9 juta orang dengan HIV AIDS tidak mengakses pengobatan ART. Namun, pada penderita yang mendapat akses terhadap ART, hanya 45% diantaranya yang berhasil mensupresi viral load, sedangkan yang lain mengalami kegagalan akibat kurang patuh dalam mengkonsumsi ART .

          Untuk  memonitor dan mengevaluasi  program, perlu menggunakan system pencatatan dan pelaporan berjenjang. Secara rutin Klinik HIV RSD Gunung Jati Kota Cirebon membuat laporan, mengirimkan laporan ke KPA provinsi, KPA nasional dan para pemangku kepentingan .Namun, analisa terhadap data yang dimiliki belum dilakukan secara maksimal. Data yang dilaporkan hanya berupa angka absolut dan belum menggambarkan capaian hasil kinerja. Pengembangan sistem pencatatan dan pelaporan

HIV dan AIDS berbasis data di RSD Gunung Jati Kota Cirebon bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan menggunakan database yang sistematik, penyimpanan, pengolahan dan pengelolaan data menjadi lebih baik. Pengembangan  sistem pencatatan dan pelaporan HIV dan AIDS berbasis data di RSD Gunung Jati Kota Cirebon bertujuan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Dengan menggunakan database yang sistematik, penyimpanan, pengolahan dan pengelolaan data menjadi lebih baik. Akan  mencakupan kinerja dan indikator, diharapkan perencanaan upaya penanggulangan HIV dan AIDS yang dibuat oleh para pembuat keputusan dapat lebih efektif, efisien dan tepat sasaran. Untuk pengembangan sistem selanjutnya, dibutuhkan penguatan di sumber daya, rencana strategis dan SOP.

 

B. Tujuan

  • Menjelaskan pengertian dan tujuan membuat ikhtisar perawatan dan kartu pasien
  • Menjelaskan data yang diperlukan pada ikhtisar perawatan HIV dan ART
  • Menjelaskan cara  menggunakan ikhtisar perawatan HIV, kartu pasien, formulir rujukan,
  • Menjelaskan cara pengisi ikhtisar perawatan HIV, kartu pasien, formulir rujukan.
  • Membuat ikhtisar perawatan, kartu pasien dan surat rujukan

 

C. Peserta

     Peserta terdiri dari Klinik Seroja dan Klinik PTRM

 

D. Pelaksanaan On Job Training

       Kegiatan dilaksanakan tanggal 16 November 2019 di RSD Gunung Jati Kota Cirebon, yang di hadiri oleh wakil direktur pelayanan medis beserta jajarannya dan di fasilitasi oleh Kepala pendidikan dan pengembangan dan kepala seksi pendidikan dan penelitian RSD Gunung Jati Kota Cirebon.

Pelaksanaan OJT berjalan dengan lancar , semoga kegiatan ini bermanfaat dan dapat meningkatkan kinerja dan ketepatan pelaporan di instansi RSD Gunung Jati Kota Cirebon.

 

E. Rundown acara On Job Training

 

DOKUMENTASI KEGIATAN ON JOB TRAINING

PENCATATAN DAN PELAPORAN KLINIK HIV/AIDS TAHUN 2019

 

 

 

 

 


PASIEN GIGITAN ULAR BERPULANG PASIEN GIGITAN ULAR BERPULANG

Pasien Adila (perempuan, 4 tahun) sebelumnya dirawat secara intensif di Ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) RSD Gunung Jati selama 5 hari dalam kondisi tak sadarkan diri. Ia tak sadarkan diri karena terkena gigitan ular weling (Bungarus Candidus) dirumah ketika sedang tidur di kamarnya. Tim Dokter RSD Gunung Jati sudah memberikan antivenom untuk penawar bisa ular tersebut. 

Pasien WNA Dalam Pengawasan Akhirnya Dipulangkan Pasien WNA Dalam Pengawasan Akhirnya Dipulangkan

Setelah menjalani perawatan sekitar 8 hari, akhirnya pasien WNA (Ny. XC, 25 tahun) asal Cina yang menjalani perawatan di Ruang Isolasi akhirnya dipulangkan. Pemulangan pasien tersebut dilakukan setelah hasil pemeriksaan laboratorium terhadap Virus Corona (nCov 219) dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menunjukkan hasil negatif. Selanjutnya pasien tersebut 

ANGGOTA DPR RI KOMISI IX TINJAU RSD GUNUNG JATI TERKAIT COVID-19 ANGGOTA DPR RI KOMISI IX TINJAU RSD GUNUNG JATI TERKAIT COVID-19

Dalam masa resesnya, Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetyani mengunjungi RSD Gunung Jati Kota Cirebon (RSGJ), Kamis (5/3) untuk mengetahui kesiapan RSGJ menangani  penyakit yang disebabkan Virus Corona.


Pada kesempatan tersebut, Ibu Netty berdiskusi terkait penanganan virus corona bersama Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan dr. Maria Listiawaty beserta jajarannya.


  • Humas
  • dibaca | 332
  • Kontak

    RSD Gunung Jati CirebonJl. Kesambi No.56 Cirebon

    Tentang Kami

    Jujur, berani, profesional adalah pola sikap, pola pikir dan pola tindak yang harus diterapkan dalam menjalankan tugas dan pekerjaan. Jujur dalam menjalankan tugas dan pekerjaan, tidak ditumpangi oleh kepentingan-kepentingan pribadi atau golongan. Berani mengatakan yang sebenarnya dengan bijaksana dan tegas menegakkan aturan. Profesional sesuai dengan standar dan kode etik profesi masing-masing tenaga kesehatan.

    Temukan Kami